program pengabdian 1 tahun di daerah telah kami lewati,dan akhirnya kami ditarik kembali untuk kemudian dikembalikan kerumah masing-masing (dulu).
seperti sudah disinggung sebelumnya, kami adalah angkatan pertama dari sebuah program milik pemerintah. pilot project. ibarat kata kami adalah para pembuka jalan di sebuah hutan yang lebat dengan tujuan mencapai air terjun di tengah hutan. kami tau harus ke tengah,kami tau tujuan akhir,namun jalannya masih belum jelas arahnya.
bagitulah yang terjadi.
3-4 bulan adalah jarak antara kepulangan dari daerah 3T ke masa PPG. bukanlah waktu yang sebentar untuk kami menganggur, apalagi dengan segala ketidakpastian jadi atau tidaknya kami PPG. bingung juga setiap ditanya keluarga dan tetangga, "kerja apa/dimana sekarang?"
di kemudian hari kami baru mengetahui bahwa sillabus,materi,dan perangkat pendukung lainnya sebenarnya sudah siap dari tahun sebelumnya. tepatnya saat program diluncurkan. sayangnya pas ingin aplikasi, ada beberapa revisi dan tambahan sehingga mesti di atur ulang semuanya.
sebagai angkatan pertama pula,kami merasakan benar tambal sulam program SM3T & PPG ini.
contoh paling sederhana adalah tunjangan biaya hidup. bila angkatan pertama penempatan sabang hingga merauke jumlahnya rupiah yang masuk ke rekening adalah sama,maka tidak demikian di angkatan selanjutnya. tidak bisa disamakan antara biaya hidup di aceh dengan papua.
demikian juga aturan "tidak boleh menikah selama mengikuti program".
awalnya para peserta masih ragu,apakah program yang dimaksud adalah ketika pengabdian saja ataukah plus PPG juga.
maklum, angkatan pertama pesertanya tidak dibatasi umur sehingga dengan larangan ini menjadi sedikit berat bagi mereka yang sudah siap. cukup menjadi panas suasana kala itu ketika membahas masalah ini bersama pihak yang berwenang.
dengan bekal diskusi dan berbagai pertimbangan, akhirnya di sepakati bahwa larang menikah hanya ketika pengabdian dan ketika PPG bagi yang ingin menikah ya silahkan.
berita ini disambut dengan banyak beredar surat undangan setelahnya. hahaha...
hal ini pun nyatanya tak lepas dari pengamatan pihak kemendikbud dan universitas. melihat dan menimbang ,sejak angkatan kedua dan seterusnya, kontrak tidak boleh menikah pun di perjelas dan ditandatangi di atas materai sejak pemberkasan pertama.
fix,peserta tak boleh menikah selama mengikuti SM3T & PPG.
ya, SM3T & PPG angkatan pertama rasanya penuh sekali dengan kejutan tak terduga. Perubahan informasi dan realisasi terjadi dengan sangat cepat dan bisa terjadi kapan saja. informasi awal yang datang A,namun ada perubahan sehingga realisasinya B,maka peserta pun minta berdiskusi hingga akhirnya terjadi kesepakatan menjadi C.
nmun disinilah saya pribadi mnjadi sangat hormat pada pihak UNY. mereka benar-benar menyediakan waktu untuk mendengar,dan kemudian merespon dengan tindakan atas semua masukan dan kritikan yang disampaikan. benar-benar merasa bahwa suara kami bukanlah angin lalu.
ada 1 hal luar biasa yang saya pribadi masih tidak habis pikir terjadi saat kami PPG. detail jurusan lain saya kurang tau,tapi untuk jurusan PPG bahasa inggris UNY, dosen tetapnya adalah mereka yang memiliki jabatan staff ahli rektor x, dekan, kepala jurusan, dan dosen senior.
hal ini terjadi bukan tanpa alasan.
ketika silabus,materi, dan jadwal mengajar pengajar telah siap,terjadi keterlambatan dari jadwal hingga 4 bulan. maka, pihak kampus pun menyesuaikan jadwal mengajar pengajar kembali dan tentu itu tidak mudah. mau tidak mau,para pemimpin langsung mengambil alih tanggung jawab di sela tugas utamanya yang tentu saja tidak banyak lowong.
salute.
lantas,apa saja kah yang kami pelajari di PPG ini?
to be continued to the next post...
No comments:
Post a Comment